“ Senja kemarin, aku menyerah dengan segala cinta dan harapanku “
Karya : Reka Andriani P.
Hari itu, kamu memutuskan untuk
berhenti. Ketakutanku akhirnya terjadi. Saat kita masih bersama dulu, aku
selalu berpikir bagaimana nanti ketika acara itu datang?, bagaimana nanti
ketika kau mulai lupa denganku? dan masih banyak lagi. Semua ketakutanku sirna
sejenak ketika kamu memberikan pengertian bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Bahkan saat acara itu selesai pun kita akan tetap baik-baik saja.
Hari berganti hari dan bulan pun
berganti bulan. Acara yang kamu tunggu akhirnya tiba, acara yang sama sekali
tak ku harapkan. Memang, lewat acara itu kita bertemu. Tapi, lewat acara itu
pun kita berpisah.
Aku sedang terpisah denganmu kala
itu. Aku mengerti kesibukanmu dengan acara itu, sedang aku selalu sabar menanti
pesan singkat darimu. Aku harus berjuang untuk mendapatkan segaris signal saat
itu. Aku pun masih bersyukur kamu memberiku kabar dan menanyakan keadaan ku.
Aku senang, walau sekejap.
Hari yang kutunggu tiba, hari
kepulanganku. Hari dimana kita bisa bertemu kembali dan acara itu telah usai.
Lagi-lagi, itu bukanlah hari yang seharusnya kutunggu, karena pada saat itu
kamu mulai tak memperdulikan ku. Aku kecewa, ketika mendengar alasanmu bahwa
kamu sedang tidak ingin memegang ponsel. Tentu saja, semua itu karena mungkin
kamu yang terlalu lelah. Atau mungkin kamu sengaja menghindariku. Dingin,
singkat, dan hambar itulah yang kurasakan saat itu. Semua pesan yang kamu
kirimkan rasanya hanya formalitas belaka. Aku mulai berpikir yang tidak-tidak
tentang semua itu. Apakah kita akan selesai?
***
Hari pun berlalu, kamu sudah
kembali seperti apa adanya dirimu dulu. Sayangnya, sikapmu kepadaku yang mulai
berubah. Jangan kamu pikir aku tak menyadarinya, aku mengerti maksudmu
melakukan semua itu. Semua kamu lakukan agar aku tidak kecewa dan sakit hati ketika
nanti kamu memutuskanku. Berjalan mundur, menjauh, tak peduli, menghilang dan
pura-pura dingin agar aku merasa marah padamu dan ketika aku benar-benar
membencimu kamu akan dengan mudah memutuskan hubungan ini. Benar kan?
***
Tanggal 10 September, kala itu
kamu datang dan memaksa bertemu. Aku memiliki firasat yang kurang baik. Benar
saja, kamu datang dengan maksud untuk memustuskan hubungan kita. Hubungan yang
dulu kamu hidupkan, kamu mulai, dan kamu harapkan akan berlangsung lama kelak
sampai dikemudian hari. Namun semua itu hanya cerita dongeng mu.
Aku tidak mengeluarkan air mata
sama sekali saat itu. Entah mengapa, tapi rasanya perasaan ini sudah tidak tau
lagi harus bagaimana. Akhirnya kita memutuskan untuk berpisah dengan alasan mu.
Sempat kamu minta aku untuk
menjaga silaturahmi setelah semua ini, aku tidak bisa menjanjikannya namun aku
akan berusaha mewujudkannya. Ditambah lagi kamu mengatakan bahwa kita akan
tetap seperti biasanya, tak akan ada yang berubah. Sampai akhirnya, waktu
berjalan dan perubahan darimu terlihat jelas. Aku sangat tak mengerti bagaimana pola pikirmu
yang sesungguhnya. Tapi, dengan sabar aku mengikuti alur yang kamu buat. Sampai
suatu waktu, kamu mengirimiku pesan singkat yang berisi penyesalanmu karena
telah bersikap seperti itu padaku. Aku hanya bisa memaafkannya, dan lucunya
beberapa waktu lagi kamu mulai dengan semuanya lagi. Kamu mulai menjauh dariku,
mengabaikanku, dan mencampakan ku untuk yang kesekian kalinya. Disana, jangan
tanya apakah aku terluka atau tidak.
Setelah semua itu, aku lelah.
Sampai pada akhirnya aku bertanya padamu aku harus bagaimana?. Dengan nada
santai kamu menjawab, baiklah kita seperti dulu lagi saja. Aku hanya terdiam
tak menjawab. Aku takut untuk memulainya lagi. Ketika aku bertanya apakah kamu
sedang bersama orang lain sekarang? Jawabanmu adalah tidak. Kamu mengatakan
bahwa kamu tidak sedang dekat dengan siapapun, akhirnya kubiarkan semuanya
berjalan sebagimana nanti ujungnya.
Semuanya baik-baik saja. Hanya,
kamu lebih sering menanyakan kepentingan kita ketimbang untuk sekedar
berceloteh denganku. Aku rindu, rindu semuanya. Rindu semua celotehn mu,
bullyan mu, cerita mu bersama ayam tetangga dan juga motivasi-motivasi aneh
karanganmu. Tapi, kamu tak pernah sadar akan semua itu. Seolah kita seperti
rekan kerja, bukan selayaknya kita. Atau mungkin aku yang berpikir lebih
mengenai kita? Entahlah semuanya membingungkan.
Aku sabar dengan semua itu,
sampai pada sore ini.
Sore ini, aku mendengar langsung
pernyataanmu saat kamu berbincang dengan teman sejawatmu. Ketika temanmu
bercerita mengenai wanita yang dekat dengannya, kamu pun mulai ingin tau.
Keingintahuan mu tentang siapa wanita itu membuat mu mengatakan “ siapa dia?
Apakah wanita yang sedang dekat denganmu sama dengan wanita yang sedang aku
dekati? “ kurang lebih begitulah penggambarannya jika dengan bahasa Indonesia.
Aku mendengarnya... bahkan sangat jelas ditelingaku. Aku sakit dan kecewa.
Sore itu, semua harapanku tentangmu
hancur. Mungkin kamu memang sudah berhenti sejak lama, hanya aku yang terlalu
terobsesi akan dirimu. Berharap kita bisa kembali seperti dulu, tapi semuanya
adalah ketidakmungkinan. Maaf bila selama ini aku telah memaksamu untuk tetap
tinggal. Tapi, jika ada seseorang yang bisa membuatmu lebih nyaman dan selalu
bisa memasang senyum indah diwajahmu, Pergilah. Kamu pantas untuk itu. Aku
tidak akan mengejarmu lebih jauh lagi.
Aku menyerah dengan segala cinta
dan harapanku padamu. Terimakasih untuk semua memori dan cerita kita bersama
hujan. Aku melepasmu dengan bismillah. Perkara kita akan seperti apa kedepannya
aku akan menerimanya tanpa syarat. Akan kukembalikan semuanya ke keadaan
semestinya. Semua kenangan indah akan aku simpan dengan baik dan kutitipkan
kepada hujan ditanggal 26 senja kemarin.
Ketika nanti ada skenario Tuhan
yang mempertemukan kita berdua lagi, aku harap kamu masih mengingatku sebagai
yang pernah ada. Walau aku selalu menganggapmu sebagai yang pernah dan akan
kembali ada nantinya. ( Hujan Ku )
-rekaandrianip-
Komentar
Posting Komentar