Langsung ke konten utama

Unggulan

“ THE TRUTH UNTOLD ”

“ The Truth Untold ”  Sebuah pesan untuk ternoda  Oleh: reka andriani ‘ Bagian pertama tulisan ini Hei, jangan menghakimiku hanya karena judul tulisan ini Bahasa Inggris dan aku menceritakannya dalam Bahasa Indonesia ya. Kalian tau kan betapa repotnya kalau aku menulisnya dengan Bahasa Inggris hehe. Aku hanya menulis ini sebagai cerita yang setidaknya harus kukenang. Itu saja. Semoga kalian senang dengan ceritaku. Selamat membaca teman. ... Malam ini bintang-bintang bertabur dan berpadu dengan sinarnya yang apik seakan bergelayut manja kepada sang langit malam. Seolah sedang memamerkan pesonanya kepada jutaan pasang mata yang melihatnya, atau bahkan yang tak sengaja melihatnya. Sebentar, aku lupa menceritakan bulan. Saat itu bulan pun ikut mendampingi langit malam. Sinarnya yang elok berpedar diseluruh wajah bumi menjadikannya primadona malam ini, ditambah dengan gemerlapnya bintang seperti kilau intan yang tak dapat dibayar oleh apapun. Malam ini terasa sesem...

Kenanganku Bersama Bunda

  “Kepulanganku Bunda”                                                           
 Karya : Reka Andriani P.
                                                       

Kemuning daun ilalang bertebar sejauh mata memandang. Kala itu senja melengkapi kekelaman yang kian mendalam, seakan mengorek kenangan yang hilang. Kenangan kelam yang sengaja ingin kubuang dan kubiarkan habis tergerus bersama ingatanku yang hilang. Gemuruh deru ombak menabrak karang, menyisakan haru mendalam di lubuk hati yang karam. Kini penyesalan tiada arti, hanya akan membuka luka lama dan menambah goresan baru yang menyesakan hati.  
Dua belas tahun yang lalu menjadi saksi kisah hidupku dan bunda. Aku anak laki-laki satu-satunya yang bunda punya. Aku dan bunda hidup di sebuah desa kecil yang damai dan tentram. Hidupku sangat bahagia meski aku tak pernah mengenal sosok seorang ayah. Bunda pun tak pernah mau memberitahuku tentangnya. Sempat terfikir olehku, seandainya ayah ada di sini bersamaku dan bunda, mungkin kehidupanku dan bunda lebih terjamin. Bunda tidak harus menjadi buruh cuci yang setiap harinya hanya mendapat upah minim. Bunda bekerja keras siang malam untuk mencari biaya sekolahku agar aku dapat mengenyam pendidikan yang layak seperti halnya teman-temanku. Tapi aku tidak pernah mendengar bunda mengeluh, berapapun itu bunda terima dengan penuh rasa syukur. Aku tahu  bunda sangat lelah menjalani kehidupan seperti ini, tapi jika aku bertanya apakah bunda lelah?, dengan wajah berseri dan senyum yang merekah di bibirnya bunda selalu menjawab ”tidak nak..”, karena bila bunda lelah, lelah dan kepenatan bunda hilang seketika saat bunda melihatmu tersenyum. Setelah itu pasti bunda selalu berkata “maafkan bunda nak, karena tidak bisa membuatmu  merasakan hidup yang lebih layak lagi. Bunda juga berkata bahwa aku adalah sumber kekuatannya dalam menghadapi peliknya permasalahan dunia ini.   
Aku duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Seperti biasanya, bunda mengantarku sampai kedepan pintu gerbang sekolahku, tak lupa aku mencium tangan dan kening bunda. Walaupun aku sudah cukup besar untuk melakukan hal kekanakan seperti itu, tapi itu sudah menjadi kebiasaanku. Dikelas aku termasuk anak yang pandai bergaul, walaupun hidupku serba kekurangan tapi teman-teman mengerti dan tidak membedakanku dengan teman- teman yang lain. Dimata guru pun aku dianggap siswa yang berprestasi.
Aku bercita-cita menjadi seorang tentara  agar nantinya aku bisa membahagikan bunda sekaligus melindungi negriku Indonesia tercinta. Selama ini bunda tak pernah merasakan indahnya dunia. Bunda selalu bekerja keras agar dapat mendapatkan uang. Bagi bunda, membesarkan dan membuatku bahagia adalah hal terpenting dalam hidup bunda. Itulah yang memotivasiku untuk belajar lebih giat lagi agar kelak aku bisa menjadi orang yang berguna dan dapat membahagiakan bunda. Aku ingat betul kata-kata bunda, bahwa orang sukses berawal dari kerja keras. Hal itu membuatku semangat dalam menjalani hidup.
Dengan kerja keras bunda, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku di sekolah menengah atas. Aku pun berniat melanjutkan pendidikanku kejenjang yang lebih tinggi. Bunda merestuiku, tapi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi dekat gubuk kecil kami pastinya. Atas dorongan bunda, kulangkahkan kaki dengan penuh keyakinan dan juga harapan akan menjadi orang yang berhasil kelak. Kuputuskan untuk mendaftar ke sekolah kemiliteran yang letaknya jauh diluar dari daerah desa tempat aku dan bunda tinggal. Dan aku belum memberitahu bunda tentang ini, dan akan kurahasiakan untuk sementara waktu. Karena aku tahu pasti bunda tak merestuiku untuk masuk mengikuti pelatihan kemiliteran.
 Malam itu aku bertengkar dengan bunda, memecah keheningan malam. Karena aku baru memberitahu bunda kalau aku diterima di sekolah kemiliteran itu, yang tempatnya jauh dari desa tempat kami tinggal. Bunda menangis sejadi-jadinya, sebenarnya berat untuk meninggalkan bunda sendiri di desa. Bunda pun berkata kalau nantinya bunda akan hidup dengan siapa? terlebih lagi aku harus di karantina untuk dapat pelatihan kemiliteran dan juga pasti akan meninggalkan bunda sendiri di desa. Bunda  juga memberitahuku bahwa kehidupan kemiliteran itu sangat keras. Dengan hati-hati aku memberikan pengertian kepada bunda, aku takut akan menyinggung perasaan bunda, aku lalu berkata akan giat belajar dan berhati-hati di sana. Awalnya bunda tak merestuiku untuk pergi. Entah apa yang menjadi alasan bunda untuk tidak merestuiku. Bunda menangis tanpa henti, aku adalah seorang pria yang tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi wanita itu adalah bunda. Sedari kecil aku memang selalu menuruti kemauan bunda, apapun itu aku selalu berusaha untuk menuruti semua perkataan bunda dan aku pun tidak pernah jauh dari bunda, mungkin karena itu semua bunda merasa sangat kehilanganku. Tapi karena aku sudah terlanjur diterima dan harus membawa semua berkas-berkas yang diperlukan untuk bahan wawancaraku lusa.

Entah kenapa aku ingin sekali menjadi seorang tentara, apakah mungkin darah petualang dan darah kebangsaan demi membela tanah air tercinta telah diwariskan oleh ayahku yang mungkin juga seorang tentara?. Memang, sedari kecil aku selalu ingin melindungi semua orang, terutama bunda. Aku ingat kata bunda, “ sebagai anak lelaki, kamu harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan bisa melindungi bunda yang akan semakin lemah dan menua nak”. Tapi kemudian tak ada suara sedikit pun dari bunda. Akhirnya aku dan bunda pun saling membisu, malam itu kuhabiskan untuk merenung dan berdoa. Entah bagaimana dengan bunda di kamarnya.  
Ketika sang fajar mulai merayap disela-sela gubuk rumahku, aku terbangun dan bersegera untuk membersihkan tubuhku. Terlihat bunda duduk termenung di balkon gubuk mungil kami. Ada perasaan tak tega meninggalkan bunda sendiri di desa. Namun apa boleh buat, bunda akan tetap aman jika bunda tetap tinggal. Dengan hati-hati aku menghampiri bunda. Kulihat air mata bunda mengalir dengan deras seolah menangisi hal yang sangat ia sesali, mengapa bunda menangis? Tanyaku memecahkan lamunannya. Dengan lembut ia menoleh kepadaku, lalu ia menyuruhku untuk duduk disampingnya, aku pun menurutinya. Ada apa bunda? Bunda tak kunjung menjawab, tiba-tiba bunda memeluku, dan mengatakan bahwa “jangan tinggalkan bunda nak..bunda mohon!, bunda belum siap untuk kehilanganmu”. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang mengusam. Aku memeluknya dengan erat, seraya berkata “ bunda, aku minta maaf karena aku tidak bisa menuruti permintaanmu yang satu ini, aku harus pergi bunda, guna membantu menjaga negara kita”. Aku mohon bunda mendoakan yang terbaik untuku. Esok aku harus pergi lebih awal, untuk mendapatkan kereta pertama yang menuju ke kota, bunda. Bunda hanya membisu.
Hari ini aku berangkat memenuhi panggilan untuk mendapatkan pelatihan kemiliteran. Tidak seperti biasanya, selama ini bunda tak pernah lupa menyiapkan sarapan untukku. Dengan sedikit berlari dan terengah-engah aku mencari bunda kemana-mana, namun aku tak kunjung menemukannya. Aku berlari menuju rumah tetanggaku dan bertanya keberadaan bunda. Tetangga mengatakan bahwa ia tadi bertemu bunda di pasar. Akhirnya aku menunggu bunda di rumah, dan tak lama kemudian bunda datang, lekas aku bertanya bunda dari mana saja? Apa pagi ini bunda belum menyiapkan sarapan? Bunda tak langsung menjawab pertanyaanku. Lalu bunda pergi kebelakang dan mengambil sesuatu.
Aku heran melihat tingkah bunda pagi ini, aku yang terheran-heran melihat tingkah bunda lalu pergi ke kamar untuk memeriksa semua berkas-berkas yang aku bawa apakah sudah selesai kusiapkan semua. Tiba-tiba bunda memanggilku, aku lalu datang kearah suara bunda. Terlihat bunda sedang duduk di belakang teras gubuk kami sambil memegang sebuah bingkai foto yang sudah usang. Sambil bunda mengelapinya, sepertinya foto itu sudah lama tersimpan, muncul pertanyaan di benakku. Lalu aku mencoba mendekati bunda, untuk melihat foto siapa yang sebenarnya ada di dalam bingkai tersebut. Setelah kulihat ada foto bunda sedang menggendongku saat aku masih bayi, tapi siapa laki-laki yang memakai seragam tentara yang ada di samping bunda? Aku bertanya kepada bunda, foto siapa ini bun? Bunda kembali menitihkan air matanya. Bunda lalu menjawab, ini foto ayahmu. Sontak aku terkejut mendengar perkataan bunda. Ternyata ayah juga seorang tentara bunda? Aku meyakinkan apa yang aku dengar dari bunda. Bunda menjawab, iya nak, ini ayahmu. Lalu kenapa bunda merahasiakannya dariku? Bunda tak ingin kamu bersedih anakku. Lalu sekarang ayah dimana bunda? Tanyaku kemudian. Ayahmu gugur saat ditugaskan negara untuk menjaga kondisi negara Lebanon, yang pada saat itu sedang terjadi konflik. Ayah gugur ketika sedang berpatroli untuk menjaga keamanan disana nak. Bunda sangat terpukul atas kejadian itu. Sekarang aku tahu alasan bunda tak mengizinkanku menjadi seorang tentara. Bunda takut jika aku akan bernasib sama seperti ayah.
Keheningan mendera kami berdua yang saling terdiam merenungkan apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tak asing lagi di telingaku berteriak   memanggilku di luar sana. Aku pun datang untuk membukakan pintu dan meninggalkan bunda sendiri di belakang tempat aku dan bunda berbincang tadi. Segera aku berlari untuk membukakan pintu. Assalamualaikum, sapanya hangat. Waalaikumsalam.. jawabku. Lalu aku bertanya kepada orang tersebut yang juga menjabat sebagai ketua RT. di desaku itu. Ada apa ya pak?, bapak RT. Tersebut ternyata hanya sekedar ingin memberikan sedikit informasi. Setelah aku mengantar Pak RT. sampai didepan halaman gubukku dengan samar kulihat sebuah mobil yang aneh menurutku, terparkir di ujung jalan. Lantas milik siapa mobil itu? Entahlah. Sebelum akhirnya aku ingin masuk ke dalam rumah, tiba-tiba  ada yang memanggil namaku. Aku menoleh, lalu kulihat orang dengan pakaian mirip tentara datang. Ternyata itu adalah mobil yang digunakan untuk menjemputku dan orang yang berpakaian seragam tadi adalah kepala balai pelatihan kemiliteran di kota tempat kami tinggal.

Aku pergi. Meninggalkan bunda menyepi, meratapi kesalahan diri mempunyai anak seperti aku ini. Maafkan aku bunda tak bisa menjadi anak yang kau banggakan. Sepanjang perjalanan aku termenung, berfikir sampai terkadang menangis. Apa aku salah jika ingin mewujudkan cita-cita ku?, mengapa bunda juga tak mengerti? Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku. Sampai pada akhirnya, aku dikagetkan oleh seseorang. Dia mengajakku untuk berbincang dan aku sedikit lupa dengan permasalahanku dan bunda. Kami berbincang hingga tak terasa mobil telah sampai membawaku ke tempat pelatihan. Di tempat pelatihan ini, kami diberi sebuah kamar dengan kapasitas 3 orang dan fasilitas seadanya. Sesampainya di kamar, aku mulai membereskan pakaianku. Teman sekamarku juga sudah mulai sibuk membenahi barang bawaannya.di tempat pelatihan ini, tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi. Jika ingin memberi kabar kepada keluarga, maka harus menunggu sampai kepala balai memberikan ijin dan jatah untuk menelfon. Bagiku, menelfon atau tidak semua akan sama saja, karena bunda tidak memiliki telefon sama sekali. Untuk bisa makan dan menyekolahkanku saja bunda sudah bersyukur apalagi untuk membeli alat komunikasi.. itu jauh dari pikiran bunda yang menganggap hanya akan membuang-buang uang. Lelah dengan semua itu, aku memutuskan untuk mengambil air wudhu dan berniat untuk shalat malam. Bunda selalu mengajariku untuk selalu taat dalam beribadah. Selepas salat aku bergegas menuju tempat tidurku dan berdoa supaya bunda akan selalu sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.
Pagi ini kami sudah harus mendapat pelatihan dasar untuk pemula. Dengan penuh semangat aku mengikuti latihan demi latihan. Latihan awalnya adalah untuk mengukur ketahanan fisik. Awalnya memang sangat melelahkan, namun aku berusaha agar tidak mudah menyerah. Jam istirahat akhirnya datang membantuku untuk melepas semua kepenatan latihan yang mendera tubuhku. Sambil mengipas-ngipasi tubuhku yang bercucuran keringat, aku kembali teringat akan sosok bunda. Bunda sedang apa ya? Tanyaku dalam hati. Tak terasa kepala balai sudah menyuruh kami untuk berkumpul kembali, kupikir lama sudah aku melamun tadi. Kami semua bersiap mengambil posisi kami dalam barisan, kepala balai memberi pengarahan tentang bagaimana menyusun strategi, baik strategi berperang, menyusup, dan masih banyak lagi instruksi-instruksi yang diberikan oleh kepala balai. Setelah kami selesai mendapat instruksi, kami melanjutkan untuk latihan fisik berikutnya dan sampai pada matahari terbenam yang menandakan latihan berakhir. Sembari  matahari masih tampak ragu untuk membenamkan dirinya dan semua teman-temanku kembali ke camp nya masing-masing, aku lebih memilih untuk tetap berada di tempat latihan dan menyendiri.
Aku kembali melamunkan keadaan bunda. Tak lama berselang, aku dikejutkan oleh kepala balai yang heran melihatku termenung sendiri seperti ini. Ia lalu bertanya kepadaku, apa yang sedang menjadi beban pikiranku? Dengan sedikit lesu, aku menjawab bahwa aku sedang memikirkan bundaku. Kemudian ia bertanya lagi seberapa sayang engkau dengan bundamu? Aku sangat menyayanginya, sangat!.. benarkah itu? Seberapa sayangmu padanya? Apa kau berat meninggalkannya? Apa karena ia tak merestuimu? Pertanyaan itu membuatku berpikir dan sempat muncul pertanyaan mengapa ia tanyakan hal itu padaku..? tentu sebagai anak, aku sangat mencintai dan menyayangi bunda sepenuh hati. Mengapa kau tanyakan hal itu ketua? Ia tampak berpikir. Tak lama kemudian, “ aku juga pernah merasakan dan mengalami hal yang sedang kau alami nak” celetuknya. Apa maksudmu ketua? tanyaku. Ia mulai bercerita tentang masa lalunya. Aku dulu juga sepertimu nak, bertekad untuk mewujudkan cita-citaku sebagai seorang prajurit, namun ibuku juga tak merestuinya. Awalnya aku juga sering melamun sepertimu, menyendiri, dan sering berkhayal memikirkan apa yang sedang ibuku lakukan di desa. Jadi kau juga pernah mengalaminya ketua?. Dulu, aku hanyalah seorang anak muda rumahan sepertimu, yang tak bisa jauh-jauh dari ibuku. Aku menyesal telah melawan ibuku, kini tak ada yang bisa kulakukan selain menghabiskan sisa hidupku untuk mengabdikan diri untuk negara.( Ia menghela nafas panjang ). Lalu ia kembali bercerita, ibuku tak ingin aku menjadi seorang prajurit, tapi aku keras kepala untuk tetap menjaga keegoisanku itu. Aku ingin ada mesin waktu yang bisa membawaku kembali kepada ibuku. Haha.. tapi itu sangat mustahil. Mungkin ibuku menyesal pernah memiliki anak sepertiku. Dua puluh tahun yang lalu ibuku meninggal, bersama bencana yang meluluh lantakan desaku, tak ada yang selamat termasuk ibuku. Hal yang paling aku sesalkan adalah, tugasku membantu orang lain tapi mengapa aku tidak bisa menolong ibuku sendiri? (air matanya mengalir). Mungkin saat bencana itu tiba ibuku sedang memanggil-mangil namaku, bertanya dalam hati bagaimana keadaanku, berdoa agar aku selamat. Tapi bagaimana denganku? Dengan asyiknya aku pergi ke luar negeri sebagai hadiah negara untuk keberhasilanku dan gugusku dalam menjaga kestabilitasan di perbatasan terusa suez dan menolong orang-orang yang menjadi korban penembakan di sana. Tapi itu merupakan tugas yang mulia bukan? Tanyaku memutus ceritanya. Benar, memang itu merupakan tugas yang mulia, tapi karena hal itu aku mendapat hadiah ke luar negeri dan tak bisa ada disamping ibuku saat bencana itu datang. Entahlah, kini hidup meracun hati.. kini diri sepi meratap nasib penyesalan mendalam. Begitulah ia bercerita, aku tersentuh dan terharu mendengarkan ceritanya. Apakah hal yang sama akan terjadi padaku juga? Entahlah...

Menurutku semua yang aku alami adalah rahasia Yang Maha Kuasa, yang akan selalu menjadi teka-teki tak terpecahkan. Dua belas tahun sudah berlalu, tak ada yang berubah kecuali dengan diriku yang tersisih. Aku tidak pernah menyesal menjadi seorang prajurit yang mengabdi untuk negara walau kini aku tak dianggap lagi sebagai bagian dari negara. Itu mungkin sebagian dari serangkaian liku yang Tuhan gariskan untuk kita jalani dan lalui. Lalu Tuhan akan melihat seberapa jauh kita bisa menjalaninya dengan penuh kekuatan dan ketegaran. Aku juga sudah berusaha untuk bertemu dengan bunda, namun bunda tidak bisa menungguku terlalu lama lagi. Sekarang hari telah berbeda begitu juga dengan dunia yang enggan untuk menyapa karena sekarang bunda juga telah tiada..............   











Komentar

Postingan Populer