“Kepulanganku Bunda”
Karya : Reka Andriani P.
Kemuning daun ilalang bertebar sejauh mata memandang. Kala itu
senja melengkapi kekelaman yang kian mendalam, seakan mengorek kenangan yang hilang.
Kenangan kelam yang sengaja ingin kubuang dan kubiarkan habis tergerus bersama
ingatanku yang hilang. Gemuruh deru ombak menabrak karang, menyisakan haru
mendalam di lubuk hati yang karam. Kini penyesalan tiada arti, hanya akan
membuka luka lama dan menambah goresan baru yang menyesakan hati.
Dua belas tahun yang lalu menjadi saksi kisah hidupku dan
bunda. Aku anak laki-laki satu-satunya yang bunda punya. Aku dan bunda hidup di
sebuah desa kecil yang damai dan tentram. Hidupku sangat bahagia meski aku tak
pernah mengenal sosok seorang ayah. Bunda pun tak pernah mau memberitahuku tentangnya.
Sempat terfikir olehku, seandainya ayah ada di sini bersamaku dan bunda,
mungkin kehidupanku dan bunda lebih terjamin. Bunda tidak harus menjadi buruh
cuci yang setiap harinya hanya mendapat upah minim. Bunda bekerja keras siang
malam untuk mencari biaya sekolahku agar aku dapat mengenyam pendidikan yang
layak seperti halnya teman-temanku. Tapi aku tidak pernah mendengar bunda
mengeluh, berapapun itu bunda terima dengan penuh rasa syukur. Aku tahu bunda sangat lelah menjalani kehidupan
seperti ini, tapi jika aku bertanya apakah bunda lelah?, dengan wajah berseri
dan senyum yang merekah di bibirnya bunda selalu menjawab ”tidak nak..”, karena
bila bunda lelah, lelah dan kepenatan bunda hilang seketika saat bunda
melihatmu tersenyum. Setelah itu pasti bunda selalu berkata “maafkan bunda nak,
karena tidak bisa membuatmu merasakan
hidup yang lebih layak lagi. Bunda juga berkata bahwa aku adalah sumber
kekuatannya dalam menghadapi peliknya permasalahan dunia ini.
Aku duduk di bangku kelas tiga sekolah menengah atas. Seperti
biasanya, bunda mengantarku sampai kedepan pintu gerbang sekolahku, tak lupa
aku mencium tangan dan kening bunda. Walaupun aku sudah cukup besar untuk melakukan
hal kekanakan seperti itu, tapi itu sudah menjadi kebiasaanku. Dikelas aku
termasuk anak yang pandai bergaul, walaupun hidupku serba kekurangan tapi teman-teman
mengerti dan tidak membedakanku dengan teman- teman yang lain. Dimata guru pun
aku dianggap siswa yang berprestasi.
Aku
bercita-cita menjadi seorang tentara agar nantinya aku bisa membahagikan bunda
sekaligus melindungi negriku Indonesia tercinta. Selama ini bunda tak pernah
merasakan indahnya dunia. Bunda selalu bekerja keras agar dapat mendapatkan
uang. Bagi bunda, membesarkan dan membuatku bahagia adalah hal terpenting dalam
hidup bunda. Itulah yang memotivasiku untuk belajar lebih giat lagi agar kelak
aku bisa menjadi orang yang berguna dan dapat membahagiakan bunda. Aku ingat
betul kata-kata bunda, bahwa orang sukses berawal dari kerja keras. Hal itu
membuatku semangat dalam menjalani hidup.
Dengan kerja keras bunda, aku berhasil menyelesaikan pendidikanku
di sekolah menengah atas. Aku pun berniat melanjutkan pendidikanku kejenjang
yang lebih tinggi. Bunda merestuiku, tapi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi
dekat gubuk kecil kami pastinya. Atas dorongan bunda, kulangkahkan kaki dengan
penuh keyakinan dan juga harapan akan menjadi orang yang berhasil kelak.
Kuputuskan untuk mendaftar ke sekolah kemiliteran yang letaknya jauh diluar
dari daerah desa tempat aku dan bunda tinggal. Dan aku belum memberitahu bunda
tentang ini, dan akan kurahasiakan untuk sementara waktu. Karena aku tahu pasti
bunda tak merestuiku untuk masuk mengikuti pelatihan kemiliteran.
Malam itu aku bertengkar
dengan bunda, memecah keheningan malam. Karena aku baru memberitahu bunda kalau
aku diterima di sekolah kemiliteran itu, yang tempatnya jauh dari desa tempat
kami tinggal. Bunda menangis sejadi-jadinya, sebenarnya berat untuk
meninggalkan bunda sendiri di desa. Bunda pun berkata kalau nantinya bunda akan
hidup dengan siapa? terlebih lagi aku harus di karantina untuk dapat pelatihan
kemiliteran dan juga pasti akan meninggalkan bunda sendiri di desa. Bunda juga memberitahuku bahwa kehidupan kemiliteran
itu sangat keras. Dengan hati-hati aku memberikan pengertian kepada bunda, aku
takut akan menyinggung perasaan bunda, aku lalu berkata akan giat belajar dan
berhati-hati di sana. Awalnya bunda tak merestuiku untuk pergi. Entah apa yang
menjadi alasan bunda untuk tidak merestuiku. Bunda menangis tanpa henti, aku
adalah seorang pria yang tidak bisa melihat wanita menangis, apalagi wanita itu
adalah bunda. Sedari kecil aku memang selalu menuruti kemauan bunda, apapun itu
aku selalu berusaha untuk menuruti semua perkataan bunda dan aku pun tidak
pernah jauh dari bunda, mungkin karena itu semua bunda merasa sangat
kehilanganku. Tapi karena aku sudah terlanjur diterima dan harus membawa semua
berkas-berkas yang diperlukan untuk bahan wawancaraku lusa.
Entah kenapa aku ingin sekali menjadi seorang tentara, apakah mungkin
darah petualang dan darah kebangsaan demi membela tanah air tercinta telah
diwariskan oleh ayahku yang mungkin juga seorang tentara?. Memang, sedari kecil
aku selalu ingin melindungi semua orang, terutama bunda. Aku ingat kata bunda,
“ sebagai anak lelaki, kamu harus menjadi laki-laki yang bertanggung jawab dan
bisa melindungi bunda yang akan semakin lemah dan menua nak”. Tapi kemudian tak
ada suara sedikit pun dari bunda. Akhirnya aku dan bunda pun saling membisu, malam
itu kuhabiskan untuk merenung dan berdoa. Entah bagaimana dengan bunda di
kamarnya.
Ketika sang fajar mulai merayap disela-sela gubuk rumahku, aku
terbangun dan bersegera untuk membersihkan tubuhku. Terlihat bunda duduk
termenung di balkon gubuk mungil kami. Ada perasaan tak tega meninggalkan bunda
sendiri di desa. Namun apa boleh buat, bunda akan tetap aman jika bunda tetap
tinggal. Dengan hati-hati aku menghampiri bunda. Kulihat air mata bunda
mengalir dengan deras seolah menangisi hal yang sangat ia sesali, mengapa bunda
menangis? Tanyaku memecahkan lamunannya. Dengan lembut ia menoleh kepadaku,
lalu ia menyuruhku untuk duduk disampingnya, aku pun menurutinya. Ada apa
bunda? Bunda tak kunjung menjawab, tiba-tiba bunda memeluku, dan mengatakan
bahwa “jangan tinggalkan bunda nak..bunda mohon!, bunda belum siap untuk
kehilanganmu”. Air matanya semakin deras mengalir di pipinya yang mengusam. Aku
memeluknya dengan erat, seraya berkata “ bunda, aku minta maaf karena aku tidak
bisa menuruti permintaanmu yang satu ini, aku harus pergi bunda, guna membantu
menjaga negara kita”. Aku mohon bunda mendoakan yang terbaik untuku. Esok aku
harus pergi lebih awal, untuk mendapatkan kereta pertama yang menuju ke kota,
bunda. Bunda hanya membisu.
Hari ini aku berangkat memenuhi panggilan untuk mendapatkan
pelatihan kemiliteran. Tidak seperti biasanya, selama ini bunda tak pernah lupa
menyiapkan sarapan untukku. Dengan sedikit berlari dan terengah-engah aku
mencari bunda kemana-mana, namun aku tak kunjung menemukannya. Aku berlari
menuju rumah tetanggaku dan bertanya keberadaan bunda. Tetangga mengatakan
bahwa ia tadi bertemu bunda di pasar. Akhirnya aku menunggu bunda di rumah, dan
tak lama kemudian bunda datang, lekas aku bertanya bunda dari mana saja? Apa
pagi ini bunda belum menyiapkan sarapan? Bunda tak langsung menjawab
pertanyaanku. Lalu bunda pergi kebelakang dan mengambil sesuatu.
Aku heran
melihat tingkah bunda pagi ini, aku yang terheran-heran melihat tingkah bunda
lalu pergi ke kamar untuk memeriksa semua berkas-berkas yang aku bawa apakah
sudah selesai kusiapkan semua. Tiba-tiba bunda memanggilku, aku lalu datang
kearah suara bunda. Terlihat bunda sedang duduk di belakang teras gubuk kami
sambil memegang sebuah bingkai foto yang sudah usang. Sambil bunda
mengelapinya, sepertinya foto itu sudah lama tersimpan, muncul pertanyaan di
benakku. Lalu aku mencoba mendekati bunda, untuk melihat foto siapa yang
sebenarnya ada di dalam bingkai tersebut. Setelah kulihat ada foto bunda sedang
menggendongku saat aku masih bayi, tapi siapa laki-laki yang memakai seragam
tentara yang ada di samping bunda? Aku bertanya kepada bunda, foto siapa ini
bun? Bunda kembali menitihkan air matanya. Bunda lalu menjawab, ini foto
ayahmu. Sontak aku terkejut mendengar perkataan bunda. Ternyata ayah juga
seorang tentara bunda? Aku meyakinkan apa yang aku dengar dari bunda. Bunda
menjawab, iya nak, ini ayahmu. Lalu kenapa bunda merahasiakannya dariku? Bunda
tak ingin kamu bersedih anakku. Lalu sekarang ayah dimana bunda? Tanyaku
kemudian. Ayahmu gugur saat ditugaskan negara untuk menjaga kondisi negara Lebanon,
yang pada saat itu sedang terjadi konflik. Ayah gugur ketika sedang berpatroli
untuk menjaga keamanan disana nak. Bunda sangat terpukul atas kejadian itu. Sekarang
aku tahu alasan bunda tak mengizinkanku menjadi seorang tentara. Bunda takut
jika aku akan bernasib sama seperti ayah.
Keheningan mendera kami berdua yang saling terdiam merenungkan apa
yang harus dilakukan. Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang tak asing lagi
di telingaku berteriak memanggilku di
luar sana. Aku pun datang untuk membukakan pintu dan meninggalkan bunda sendiri
di belakang tempat aku dan bunda berbincang tadi. Segera aku berlari untuk
membukakan pintu. Assalamualaikum, sapanya hangat. Waalaikumsalam.. jawabku. Lalu
aku bertanya kepada orang tersebut yang juga menjabat sebagai ketua RT. di desaku
itu. Ada apa ya pak?, bapak RT. Tersebut ternyata hanya sekedar ingin memberikan
sedikit informasi. Setelah aku mengantar Pak RT. sampai didepan halaman gubukku
dengan samar kulihat sebuah mobil yang aneh menurutku, terparkir di ujung jalan.
Lantas milik siapa mobil itu? Entahlah. Sebelum akhirnya aku ingin masuk ke dalam
rumah, tiba-tiba ada yang memanggil namaku.
Aku menoleh, lalu kulihat orang dengan pakaian mirip tentara datang. Ternyata
itu adalah mobil yang digunakan untuk menjemputku dan orang yang berpakaian seragam
tadi adalah kepala balai pelatihan kemiliteran di kota tempat kami tinggal.
Aku pergi. Meninggalkan bunda menyepi, meratapi kesalahan diri
mempunyai anak seperti aku ini. Maafkan aku bunda tak bisa menjadi anak yang kau
banggakan. Sepanjang perjalanan aku termenung, berfikir sampai terkadang menangis.
Apa aku salah jika ingin mewujudkan cita-cita ku?, mengapa bunda juga tak mengerti?
Pertanyaan itu terus menggelayuti pikiranku. Sampai pada akhirnya, aku dikagetkan
oleh seseorang. Dia mengajakku untuk berbincang dan aku sedikit lupa dengan
permasalahanku dan bunda. Kami berbincang hingga tak terasa mobil telah sampai
membawaku ke tempat pelatihan. Di tempat pelatihan ini, kami diberi sebuah kamar
dengan kapasitas 3 orang dan fasilitas seadanya. Sesampainya di kamar, aku mulai
membereskan pakaianku. Teman sekamarku juga sudah mulai sibuk membenahi barang
bawaannya.di tempat pelatihan ini, tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi.
Jika ingin memberi kabar kepada keluarga, maka harus menunggu sampai kepala balai
memberikan ijin dan jatah untuk menelfon. Bagiku, menelfon atau tidak semua akan
sama saja, karena bunda tidak memiliki telefon sama sekali. Untuk bisa makan dan
menyekolahkanku saja bunda sudah bersyukur apalagi untuk membeli alat komunikasi..
itu jauh dari pikiran bunda yang menganggap hanya akan membuang-buang uang. Lelah
dengan semua itu, aku memutuskan untuk mengambil air wudhu dan berniat untuk shalat
malam. Bunda selalu mengajariku untuk selalu taat dalam beribadah. Selepas
salat aku bergegas menuju tempat tidurku dan berdoa supaya bunda akan selalu
sehat dan selalu dalam lindungan-Nya.
Pagi ini kami sudah harus mendapat pelatihan dasar untuk pemula.
Dengan penuh semangat aku mengikuti latihan demi latihan. Latihan awalnya adalah
untuk mengukur ketahanan fisik. Awalnya memang sangat melelahkan, namun aku
berusaha agar tidak mudah menyerah. Jam istirahat akhirnya datang membantuku
untuk melepas semua kepenatan latihan yang mendera tubuhku. Sambil mengipas-ngipasi
tubuhku yang bercucuran keringat, aku kembali teringat akan sosok bunda. Bunda
sedang apa ya? Tanyaku dalam hati. Tak terasa kepala balai sudah menyuruh kami
untuk berkumpul kembali, kupikir lama sudah aku melamun tadi. Kami semua bersiap
mengambil posisi kami dalam barisan, kepala balai memberi pengarahan tentang bagaimana
menyusun strategi, baik strategi berperang, menyusup, dan masih banyak lagi
instruksi-instruksi yang diberikan oleh kepala balai. Setelah kami selesai mendapat
instruksi, kami melanjutkan untuk latihan fisik berikutnya dan sampai pada matahari
terbenam yang menandakan latihan berakhir. Sembari matahari masih tampak ragu untuk membenamkan
dirinya dan semua teman-temanku kembali ke camp nya masing-masing, aku lebih
memilih untuk tetap berada di tempat latihan dan menyendiri.
Aku kembali
melamunkan keadaan bunda. Tak lama berselang, aku dikejutkan oleh kepala balai
yang heran melihatku termenung sendiri seperti ini. Ia lalu bertanya kepadaku, apa
yang sedang menjadi beban pikiranku? Dengan sedikit lesu, aku menjawab bahwa aku
sedang memikirkan bundaku. Kemudian ia bertanya lagi seberapa sayang engkau
dengan bundamu? Aku sangat menyayanginya, sangat!.. benarkah itu? Seberapa sayangmu
padanya? Apa kau berat meninggalkannya? Apa karena ia tak merestuimu? Pertanyaan
itu membuatku berpikir dan sempat muncul pertanyaan mengapa ia tanyakan hal itu
padaku..? tentu sebagai anak, aku sangat mencintai dan menyayangi bunda sepenuh
hati. Mengapa kau tanyakan hal itu ketua? Ia tampak berpikir. Tak lama kemudian,
“ aku juga pernah merasakan dan mengalami hal yang sedang kau alami nak”
celetuknya. Apa maksudmu ketua? tanyaku. Ia mulai bercerita tentang masa lalunya.
Aku dulu juga sepertimu nak, bertekad untuk mewujudkan cita-citaku sebagai seorang
prajurit, namun ibuku juga tak merestuinya. Awalnya aku juga sering melamun
sepertimu, menyendiri, dan sering berkhayal memikirkan apa yang sedang ibuku lakukan
di desa. Jadi kau juga pernah mengalaminya ketua?. Dulu, aku hanyalah seorang anak
muda rumahan sepertimu, yang tak bisa jauh-jauh dari ibuku. Aku menyesal telah
melawan ibuku, kini tak ada yang bisa kulakukan selain menghabiskan sisa
hidupku untuk mengabdikan diri untuk negara.( Ia menghela nafas panjang ). Lalu
ia kembali bercerita, ibuku tak ingin aku menjadi seorang prajurit, tapi aku
keras kepala untuk tetap menjaga keegoisanku itu. Aku ingin ada mesin waktu yang
bisa membawaku kembali kepada ibuku. Haha.. tapi itu sangat mustahil. Mungkin
ibuku menyesal pernah memiliki anak sepertiku. Dua puluh tahun yang lalu ibuku
meninggal, bersama bencana yang meluluh lantakan desaku, tak ada yang selamat
termasuk ibuku. Hal yang paling aku sesalkan adalah, tugasku membantu orang lain
tapi mengapa aku tidak bisa menolong ibuku sendiri? (air matanya mengalir).
Mungkin saat bencana itu tiba ibuku sedang memanggil-mangil namaku, bertanya dalam
hati bagaimana keadaanku, berdoa agar aku selamat. Tapi bagaimana denganku?
Dengan asyiknya aku pergi ke luar negeri sebagai hadiah negara untuk keberhasilanku
dan gugusku dalam menjaga kestabilitasan di perbatasan terusa suez dan menolong
orang-orang yang menjadi korban penembakan di sana. Tapi itu merupakan tugas yang
mulia bukan? Tanyaku memutus ceritanya. Benar, memang itu merupakan tugas yang
mulia, tapi karena hal itu aku mendapat hadiah ke luar negeri dan tak bisa ada
disamping ibuku saat bencana itu datang. Entahlah, kini hidup meracun hati..
kini diri sepi meratap nasib penyesalan mendalam. Begitulah ia bercerita, aku
tersentuh dan terharu mendengarkan ceritanya. Apakah hal yang sama akan terjadi
padaku juga? Entahlah...
Menurutku semua
yang aku alami adalah rahasia Yang Maha Kuasa, yang akan selalu menjadi teka-teki
tak terpecahkan. Dua belas tahun sudah berlalu, tak ada yang berubah kecuali
dengan diriku yang tersisih. Aku tidak pernah menyesal menjadi seorang prajurit
yang mengabdi untuk negara walau kini aku tak dianggap lagi sebagai bagian dari
negara. Itu mungkin sebagian dari serangkaian liku yang Tuhan gariskan untuk
kita jalani dan lalui. Lalu Tuhan akan melihat seberapa jauh kita bisa menjalaninya
dengan penuh kekuatan dan ketegaran. Aku juga sudah berusaha untuk bertemu dengan
bunda, namun bunda tidak bisa menungguku terlalu lama lagi. Sekarang hari telah
berbeda begitu juga dengan dunia yang enggan untuk menyapa karena sekarang bunda
juga telah tiada..............
Komentar
Posting Komentar