“ THE TRUTH UNTOLD ”
“ The Truth Untold ”
Sebuah pesan untuk ternoda
Oleh: reka andriani
Sebuah pesan untuk ternoda
Oleh: reka andriani
‘
Bagian pertama tulisan ini
Hei, jangan menghakimiku hanya karena judul
tulisan ini Bahasa Inggris dan aku menceritakannya dalam Bahasa Indonesia ya. Kalian
tau kan betapa repotnya kalau aku menulisnya dengan Bahasa Inggris hehe. Aku
hanya menulis ini sebagai cerita yang setidaknya harus kukenang. Itu saja.
Semoga kalian senang dengan ceritaku. Selamat membaca teman.
...
Malam ini bintang-bintang bertabur dan berpadu
dengan sinarnya yang apik seakan bergelayut manja kepada sang langit malam.
Seolah sedang memamerkan pesonanya kepada jutaan pasang mata yang melihatnya,
atau bahkan yang tak sengaja melihatnya. Sebentar, aku lupa menceritakan bulan.
Saat itu bulan pun ikut mendampingi langit malam. Sinarnya yang elok berpedar
diseluruh wajah bumi menjadikannya primadona malam ini, ditambah dengan
gemerlapnya bintang seperti kilau intan yang tak dapat dibayar oleh apapun.
Malam ini terasa sesempurna metamorfosa kupu-kupu yang kupelajari saat masih
duduk dibangku sekolah dasar. Percayalah, aku tidak sedang berbohong tentang
semua ini. Karena dengan merekalah aku bercerita, dan dengan mereka aku merasa
seperti didengar. Setidaknya malam ini.
***
Berlatar malam, aku menghabiskan sisa malam ku
untuk tidak menidurkan mata dan tubuhku yang kurus ini. Ya, itu benar. Aku
sedang bercerita kepada teman-temanku di langit. Mengingat kembali masa-masa
dimana aku berada di titik rendah dimata orang lain. Tentang bintang dan langit,
mungkin bisa dibilang aku mengada-ada. Mana bisa mereka kamu anggap teman
sedang mereka tidak bisa berbicara atau menenangkanmu layaknya seorang sahabat
kepada sahabatnya ketika dirundung masalah. Tenang, aku punya sahabat dan aku
tidak gila. Hanya saja, malam ini ingin kuhabiskan waktuku untuk sekedar bercerita
kepada bintang dan beda langit lainnya karena aku hanya ingin sebatas
bercerita. Tak ingin ada perdebatan, masukan, saran, nasihat atau sebagainya
karena aku hanya sedang ingin didengar. Sekarang, terdengar masuk akal bukan?.
Aku sungguh beralasan demikian, karena manusia
tidak benar-benar peduli apa yang sedang kita rasakan. Aku tidak men-judge semua manusia begitu, aku juga
tidak memaksakan itu, punya otoritas apa aku sampai bisa mengatur mereka untuk
selalu bersedia mendengarkan semua kisahku? Tidak, aku tidak seegois itu. Jika
menyangkut hal pribadi, aku tergolong sombong karena aku tidak akan
menceritakannya dengan sembarang orang apalagi dengan orang yang sembarang
mengumbar mulutnya hanya demi mendapatkan bahan untuk bergosip. Ceritaku
terlalu mahal untuk diobral luas kepada orang-orang yang haus akan urusan orang
lain. Karena aku juga sangat menjunjung tinggi privasi. Semua cerita ini
berawal ketika aku masih belia dan aku sendiri adalah seorang introvert.
‘
Kupikir itu sumber masalahnya, menjadi seorang
introvert. Tapi apa yang salah dengan orang introvert? Bukankah kita diciptakan
dalam bentuk yang sama sebagai manusia? Benarkan? Kalian paham kan maksudku?
Ya, kuharap begitu teman.
Baiklah, aku tidak akan menjelaskan tentang apa
itu introvert karena jika kalian
ingin tau, maka kalian bisa mencarinya di browser
kesayangan kalian karena aku akan menceritakan bagaimana kepribadian
introvertku ini bisa menjuntai dan terangkai menjadi kisah yang kutulis
sekarang dan kalian baca saat ini bukan tulisan yang berisi pengertian
introvert dan sejenisnya. Bagi kalian yang merasa seorang introvert tentu akan
jauh lebih mudah memahami tulisanku ini melalui perasaan itu.
***
Biar panjang kuceritakan ini. Menjadi seorang
introvert sama sekali bukan menjadi anti sosial seperti kebanyakan orang
bilang. Lagipula, tidak ada yang bisa menjamin jika seseorang memiliki
kepribadian introvert 100% mungkin hanya lebih dominan jika dibandingkan dengan
extrovert dalam dirinya. Menjadi introvert bukan berarti juga (kami) hanya
terpaku oleh diri kami sendiri. Mungkin bisa dibilang lebih fokus terhadap
internal (kami) dibandingkan dengan lingkungan tempat (kami) berada. Namun
demikian, perlu diingat (kami) tidak bisa disamakan dengan mereka yang pemalu
atau memiliki gangguan kecemasan sosial ya. Itu sangat berbeda teman. (Kami)
masih bisa berinteraksi baik bersama orang lain. Hanya saja, setelah (kami)
berkumpul bersama orang lain, kami membutuhkan waktu sendiri untuk re-carge. Karena bagi (kami) waktu
ketika (kami) menyendiri adalah waktu yang sangat menenangkan dan nyaman
tentunya. Tak banyak suara, tak ada yang bisa merusak mood dan itu melegakan
bagiku. Sungguh. Aku tak menuntut banyak kepada kalian, jika kalian ingin
berteman maka kuterima dengan sambutan paling hangat yang bisa kuberikan.
Tolong, jangan mengambil kesimpulan buruk tentang (kami) ya teman. Cukup saling
menghargai saja itu jauh melebihi cukup.
Selipan kata bintang ❤❤
“ Jadi, hiduplah dengan baik sebaik
Tuhan mu menciptakan kamu “
***
Sini, akan kuceritakan kisahku setelah aku
berpidato panjang sebelumnya. Saat itu umurku masih sangat muda dan semua kisah
ini berawal saat aku duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar di Jakarta.
Aku tumbuh dengan baik. Dilahirkan dari rahim
sehat seorang ibu. Menjadi anak kecil yang hanya tau bermain dan sekolah. Aku
sangat pemalu, bisa dikatakan begitu. Awalnya aku tidak mengerti kenapa aku
tidak seperti teman-temanku yang lain. Padahal kami terlihat sama diluar. Aku
menyadari itu, bahwa aku sangat pemalu, penakut dan bahkan sama sekali tidak
nyaman dengan suasana baru.
Wajar, begitu kata orang ketika melihat anak kecil
yang baru mulai masuk kelas 1 SD ditunggu oleh orang tua mereka saat bersekolah.
Ya, kata-kata itu juga diperuntukan untukku. Seperti kebanyakan anak-anak lain,
aku akan menangis ketika tak kulihat ibu dijendela diluar kelasku. Oh Tuhan,
betapa menjengkelkannya bagi ibu saat itu. Selama kurang lebih 6 jam ibu
berdiri diluar kelas tepat dijendela agar anaknya dapat melihat wajah.
Tentunya, agar aku tidak menangis. Hmm menyusahkan.
Aku juga takut dengan anak laki-laki yang berbadan
lebih besar dari anak-anak seumuran mereka. Kupikir karena badanku kecil, maka
aku takut jika mereka mendorongku itu akan terasa sakit olehku. Oleh karenanya,
aku berusaha tidak memiliki urusan dengan mereka. Setidaknya begitu kondisiku
ketika menginjak SD kelas 1.
Kata “wajar” yang sering kudengar berubah menjadi
“manja dan tukang rengek” bagaimana tidak? aku sudah duduk dikelas 3 SD dan
ibuku masih saja kuminta untuk menungguku seperti biasa. Tapi aku tidak peduli
jika ibu adalah sat-satunya orang tua yang menunggui anaknya saat itu dan
kurasa ibu pun juga tidak peduli. Dari sana ibu tau kalau aku berbeda dengan
temanku.
***
Suatu pagi, tahun ajaran baru akan dimulai.
Semester 2 dikelas 3 SD akan dimulai setelah liburan panjang mengakhiri
semester 1. Pagi itu aku dan ibu berangkat pagi sekali untuk berada didepan
pintu untuk mencari kursi. Ya, itu budayanya. Kursi yang kami pilih di awal
semester akan menjadi kursi yang kami duduki sampai akhir semester. Jadi, hari
itu hari Senin saat aku dan ibu memutuskan untuk berangkat lebih awal karena
semester 2 akan segera dimulai hari itu. ibu menggendong tas sekolahku sambil
menggandeng tanganku. Ibuku sudah seperti pahlawan saja, berdiri digarda paling
depan untuk segera mengambil posisi kursi yang kuinginkan. Aku menginnginkan
kursi nomor 3 dari depan. Entah mengapa kurasa itu sesuatu yang hebat. Tak
lama, datang 1 orang temanku bernama Z. Aku dengannya sudah berteman cukup
dekat karena kami merupakan teman sebangku dari kami duduk dikelas 1. Saat itu,
dia sendiri tanpa ibunya. Tapi, dia tidak benar-benar sendiri. Dia bersama 1
anak perempuan yang belakangan kutau anak itu bernama P. Melihat temanku
sendirian dan saat masuk nanti akan terjadi kerusuhan, maka ibu mengambil tas Z
dan P untuk digendong dipundak ibu. Aku, tentu saja masih digandeng oelh ibuku.
Saat kelas akhirnya dibuka, ibuku bersusah payah masuk dan berdorong-dorongan
dengan beberapa orang tua lain yang saat itu juga ingin memilih kursi untuk
anak mereka. Ibuku berhasil mendapatkan
kursi nomor 3 sesuai permintaanku. Aku
senang. Akhirnya aku, Z dan P duduk bertiga dalam 1 kursi yang memang untuk 3
orang. Kupikir itu akan sangat menyenangkan memiliki 2 teman yang seru
sepanjang kelas berlangsung nanti. Setidaknya sebelum Z dan P bertindak yang
akhirnya membuatku muak untuk berteman dengan mereka. Mereka mungkin masih anak
kecil, tapi mereka punya jiwa jahat dalam tubuh mereka.
Selepas upacara, aku dan semua temanku masuk
kedalam kelas. Ibuku? Tentu saja masih berada ditempat spesialnya. Tapi aku
sudah tidak semerepotkan dulu, setelah menungguiku beberapa saat ibu akan
pulang dan meninggalkanku. Nanti 30 menit sebelum kelas usai, kuminta ibu sudah
ada diluar kelas untuk menjemputku. Begitulah. Aku masuk bersama Z dan P
selepas upacara bendera. Saat itu, Z dan P sudah menduduki kursi kami dan
mereka memutuskan untuk duduk disisi yang berbeda. Z diposisi pinggir dan P
disisi pinggir lainnya. Aku tentu saja dengan otomatis harus duduk ditengah-tengah
mereka. Awalnya aku akan duduk dan masuk dari arah Z namun dia menolak karena
dia lelah dan malas untuk berdiri. Dia memintaku untuk masuk lewat sisi P dan
akupun memutar untuk mendatangi P dan kalian tau? P menjawab dengan alasan sama
seperti yang diberikan oleh Z padaku. Hatiku bergejolak, hei siapa mereka bisa
seenaknya berprilaku begini padaku. Kursi inikan ibuku yang mencarikannya
untukku dan mereka tinggal duduk malah ini yang kudapat dari mereka. Tanpa
pikir panjang lagi, aku melangkahi P dan berhasil duduk. Z temanku tiba-tiba
dia berkata dengan nada tinggi padaku. Kalian mau tau apa itu? Z : “ hei, kamu
kok melangkahi P? Tas dia kotor karena sepatumu tau “. Aku tidak peduli, dan
kuberanikan untuk menjawab Z. Hei, kursi ini ibuku yang mencarikannya. Kalian
ini siapa? Seenaknya membuatku tak bisa duduk dengan akal-akalan kalian. Kamu
ini kenapa? Kutanya temanku Z sambil tak percaya mengapa temanku ini berubah dan
tidak peduli padaku lagi. Z tediam, kemudian dia berkata jika aku tidak
sepintar dan sekaya P. Oh Tuhan, inikah temanku Z yang sebenarnya? Setelah
kata-kata itu keluar dari mulut Z, aku terdiam. Z mengajak P untuk tidak
menghiraukanku lagi karena mereka menganggap tidak selevel denganku. Aku tak
percaya Z temanku yang kukenal dari kelas 1 ternyata lebih memilih teman
barunya P dibanding aku. Aku marah. Siapa mereka bisa membandingkan level
manusia dengan harta.
Mereka mengolok-olok ku karena uang jajanku hanya
seribu rupiah saja, jika dibandingkan mereka berdua yang 5 kali lipat lebih
banyak dariku. Mereka membicarakanku dibelakang, mereka mengejek ku didepan
teman-teman kelas ku yang lain, mereka menyudutkanku. Ya, mereka melakukan itu
semua. Mungkin saat ini, perlakuan itu lebih dikenal dengan nama bulliying. Aku
tidak tau, yang kutau mereka itu iblis. Terdengar jahat bukan? Itulah
penilaianku kepada mereka atas apa yang mereka lakukan padaku.
Sejak saat itu, aku tidak berbicara dengan mereka
lagi. Aku memutuskan untuk pindah kursi dan satu-satunya kursi yang masih
kosong yaitu dibelakang. Aku duduk dengan seorang teman bernama Ola, begitu
panggilannya. Namanya dadalah Febiolla. Setidaknya itu yang masih kuingat. Aku
mengalah, kubiarkan mereka (Z dan P) duduk dikursi yang telah ibuku carikan
untukku saat itu. Karena kupukir mereka adalah orang jahat, tidak.. maksudku
mereka memiliki jiwa jahat maka dari itu aku menghindarinya.
Peristiwa itu tak mungkin aku lupakan, untuk
ukuran anak SD kelas 3. Aku menutup diriku lebih rapat. Jiwaku tidak lemah,
hanya aku sudah muai terbiasa dengan luka dan yang kusadari setelahnya adalah
bahwa aku lebih nyaman sendiri dalam segala hal
bahwa aku tidak nyaman berinteraksi dengan banyak
orang
bahwa manusia banyak sekali tipu daya
bahwa manusia menyimpan banyak sekali rahasia
bahwa manusia mudah melupakan
***
Tuhan mulai mengerti dengan apa yang terjadi
padaku, anak kecil yang sama sekali tidak tau apa rencana-Nya untukku yang
sudah Dia tuliskan. Kalian tau apa?
Secara tiba-tiba orang tuaku memutuskan untuk
pindah keluar kota, lebih tepatnya keluar pulau. Tentu saja, aku juga harus
pindah sekolah. Mungkin Tuhan sedang ingin bercanda denganku, hei ini sungguh
hebat. Aku tidak perlu melihat wajah 2 orang ternoda itu lagi. Kupikir ini
rencana yang sangat luar biasa.
Aku pindah*
Aku berharap kehidupanku selanjutnya akan lebih
baik, setidaknya.
***
‘
Bagian kedua tulisan ini
Aku merasa sedang berjalan melewati belantara
tangan dan bibir, kukatakan begitu karena aku tidak tau kemana arah tujuanku.
Belantara tangan, mereka yang masih mau mengulurkan tangannya dengan hangat
untuk mengajakku berteman sedangkan belantara bibir, mereka yang hanya
menindasku dengan mulut jahat mereka. Aku lupa menanyakannya pada Tuhan,
mengapa mereka punya mulut seperti itu? apakah orang tua mereka yang
mengajarinya? Hmm.
Berjalan seorang diri di belantara membuatku
banyak kehilangan esensi dari diriku sendiri. Sepertinya hanya mereka yang tau
tentang aku melebihi diriku sendiri. Mereka terlalu muda untuk bisa sejahat
itu. Aku lelah sekali menjadi aku. Tak ada yang bisa kulakukan selain berjalan
dan terus menghadapinya. Kuharap suatu saat nanti, ada kehidupan diluar
belantara ini yang akan menjadi tempatku singgah dan menetap.
***
Kehidupanku berlanjut sampai sekolah menengah
pertama. Aku masih dengan sikap dingin ku kepada orang. Karena ketakutanku
dimasa lalu. Kalian bisa mengerti kan, tekanan apa yag sudah kurasakan
sebelumnya dari 2 ternoda itu.
Sombong, begitu kata teman-teman sekelasku
memanggilku. Ketika aku mulai membangun mahkota emasku tapi kemudian itu
berubah menjadi keraguan. Keraguan akan terulangnya masa laluku lagi disini.
Itu benar, semua ketakutan dan keraguanku terbukti. Aku mulai tergigit lagi
oleh ternoda. Aku siswi yang pintar dikelasku. Hal itu yang justru membuatku
tak memiliki teman seorangpun. Aku pendiam namun entah mengapa guru-guru bisa
memperhatikanku. Kuharap itu bisa membuat teman-temanku mendekatiku ya walaupun
hanya karena aku diperhatikan oleh guru, tapi itu malah membuat mereka makin
iri dan menjauhiku. Mereka berbuat demikian hanya karena aku tidak mau
memberikan jawaban PR ataupun memberikan contekan saat ulangan dilakukan. Aku
punya prinsip saat itu untuk tidak melakukannya karena aku mengerjakannya
dengan tenaga dan pikiranku. Ada harga yang tidak dapat kubayar untuk itu,
kejujuran. Aku selalu menerapkan itu, dan benar saja itu membuat ku tidak
memiliki teman dan mereka terus mengejekku dengan pelit, pinter pelit
kuburannya sempit, belagu bener cuma pinter gitu doang dan masih banyak yang
lain.
Oh iya, selama kelas 1 SMP aku duduk sendiri
dikursi paling depan pojok kanan. Tak ada yang mau duduk denganku, mereka yang
baik pun ikut terhasut oleh kata-kata dari 3 ternoda. Yah, begitulah.
Pagi itu setelah jam olahraga, aku sendirian
didalam kelas. Aku tidak pergi kekantin waktu itu. Kelas sangat sepi dan hal
mengerikan terjadi setelah beberapa saat. Seluruh teman-teman perempuanku
datang beramai-ramai memasuki kelas sambil tertawa terbahak-bahak namun
terlihat jelas itu dibuat-buat. Aku tak menghiraukannya, aku hanya duduk dan
memakan bekal yang sudah ibu siapkan untukku. Tiba-tiba duuuuuuaaaarrrrrr.....
mejaku digebrak oleh salah satu ternoda yang siap mengigitku. Benar saja,
ternoda itu bilang “ kaget yaa hahahaha, uuh kasihan. Liat nih temen-temen, si
pinter pelit kaget, kasihan yaa dia yaampun makan sendirian ga punya temen sama
sekali. Duduk sendirian, hah rasakan itulah akibatnya karena pelit. Didunia aja
ga ada yang mau temenan, apalagi ntar di kuburan” begitu katanya. Aku yang
sedang makan, berusaha tenang walaupun jantungku rasanya ingin copot mendengar
ucapan jahat dari bibir seorang anak SMP kelas 1. Dia berhasil menggigitku
dengan kata-kata jahatnya itu. Tak berhenti disitu, ternoda yang lain pun
datang sambil tertawa terbahak-bahak dan datang kearah mejaku. Kali ini dia
datang dengan fitnahnya yang cukup jelas diingatanku. Ya, dia bilang aku anak
durhaka. Dia jelas mengarang cerita tentang aku dan ibuku, oh heiiiiiii dia
membawa ibuku dalam hal ini. Tapi aku masih diam tak menghiraukan mereka.
Karena tak mendapat respon seperti yang mereka inginkan akhirnya salah satu
dari ternoda itu geram dan memegang telingaku sembari berkata “ kamu ini tuli
atau gimana, dengar ga yang kita bilang?!!!! Hah.“ begitu celetuknya. Aku
menepis tangannya dan bergegas untuk mengambil baju gantiku dan bermaksud
kekamar mandi untuk mengganti bajuku. Kemudian ternoda lain mengikuti ku dan
berjalan disamping ku sambil membelai rambutku yang panjang. Aku sudah punya
firasat buruk tentang ini dan benar saja, dia bilang “ wah rambut kamu lurus
dan halus ya” kemudian dia menarik rambutku kebawah atau yang kita kenal dengan
menjambak. Rambutku ditarik dengan tiba-tiba dan cukup dengan tenaga sehingga
kepalaku terhentak kebelakang. Aku kaget dan kesakitan karena 1 ternoda telah
menggigitku lagi. Aku berlari menuju kamar mandi dan mengunci diriku disana.
Kemudian beberapa temanku datang, ya mereka masih beruntung kusebut teman.
Mereka bertanya, apa yang membuatku begitu lama didalam sana. Karena mereka
juga ingin menggunakannya. Mereka mendengarku menangis, aku mendengar mereka
berlari kemudian aku mendengar 3 ternoda datang dan mulai membujukku. Oh Tuhan,
sebenarnya mereka ini apa? Manusia kah atau iblis yang sedang menyamar?.
Aku menangis tersedu-sedu dan kuselipkan kata-kata
bahwa aku akan melaporkan semua kejadian ini kepada kepala sekolah. Semua dari
kalian, tidak ada satupun yang terlewat. Lalu terdengar suara ketakutan dari
mereka yang memohon aku untuk tidak melakukannya. Aku tidak peduli, dan aku
keluar dengan wajah sembab dan mereka mengerubungiku unuk meminta maaf. Teman,
apakah dengan menghancurkan mental orang lain bisa memberikan kalian
kesenangan? Tanpa kalian pikirkan bagaimana keadaan orang itu nantinya?
Bagaimana dia hidup dengan semua bayangan sisi gelapnya yang selalu
mengikutinya itu? tolong, jika kalian bisa menjawab salah satu dari
pertanyaanku, maka kubatalkan aduanku ke kepala sekolah. Jika tidak, kalian
harus membayar atas apa yang telah kalian perbuat kepada ku.
*]
Esok harinya, aku kebingungan karena kelasku hanya
ada anak laki-laki saja. Aku tidak tau kemana perginya anak perempuan yang
lain. Kulihat dengan samar banyak anak yang sedang memenuhi ruang kantor kepala
sekolah. Ya, mereka semua dipanggil kepala sekolah atas tuduhan bullying.
Jangan tanya bagaimana perasaanku, aku lega. Sungguh. 3 ternoda itu meihatku
dengan sinis, tapi aku senang mereka tidak bisa lagi menyentuhku. Jika mereka
tetap nekat melakukannya, mungkin mereka akan dikeluarkan dari sekolah karena
mereka adalah otak dari semua kejahatan ini.
Aku bebas.
***
Kelas 2 SMP ku tidak jauh berbeda dengan
sebelumnya, jika kelas 1 aku di bully maka kelas 2 aku sering dilabrak. Aku
tidak tau gift apa yang Tuhan berikan kepadaku sampai rasanya semua orang
tertarik untuk mendekatiku dengan cara yang seperti ternoda lakukan. Mereka
gemar memfitnah, melabrak bahkan mengolok-olok ku.
Oh, jangan salah paham. Aku punya teman saat di
kelas 2 namun temanku juga tidak berani untuk mengambil resiko. Mereka takut
dipersulit jika ikut-ikutan membelaku.
Sampai suatu hari, aku pergi liburan ke Jakarta
yang mana hari itu bertepatan dengan konser Justin Bieber di JCC Sentul. Aku
tidak datang kekonsernya karena memang aku datang ke Jakarta saat konsernya
digelar. Saat kembai ke sekolah, aku ditanya oleh seorang “teman” apakah aku
menonton konsernya atau tidak, kujawab tidak. Namun, aku melihat siaran
ulangnya, ternyata Justin membagikan kaos gratis kepada para penggemarya yang
datang ke konsernya. Aku hanya menceritakan itu saja kepada “teman” yang
ternyata dia adalah salah satu dari ternoda. Bagimana tidak, setelah dia
mendapat cerita dariku, aku mendengar belantara bibir berbisik dan menggemakan
bahwa aku adalah seorang pembohong. Aku tidak mengerti mengapa. Saat kutanya
salah satu dari belantara mereka menjawab karena aku telah berbohong jika aku
menonton konser Justin Bieber dan mendapatkan kaos darinya. Oh Tuhan, mengapa
begitu banyak ternoda dihidupku. Kenapa aku harus hidup dibelantara bibir
seperti ini.
Aku terdiam dan makin membulatkan tekad ku untuk
memberikan pagar agar para ternoda tidak bisa menjangkauku.
Itu yang kulakukan bertahun-tahun.
Aku hidup seperti itu teman, karena kalian.
Aku beranjak SMA dan kuketahui bahwa aku seorang
introvert. Itu yang menjadi alasan kuat aku membangun pagar dan menyendiri
dibandingkan dengan membaur dengan mereka yang entah teman atau ternoda.
;
Bagian ketiga tulisan ini
Bertahun-tahun aku berjalan dibelantara tangan dan
bibir. Aku buta dengan mereka yang merupakan teman atau ternoda karena mereka
bisa berubah kapan saja tanpa kusadari. Aku membangun pagar agar ternoda tak
bisa menjangkauku. Aku lelah. Aku kehilangan banyak dari diriku. Aku butuh
sebuah tempat untuk memulai semua dari awal. Tempat yang bisa mengutuhkan dan
membuatku lengkap seperti manusia lain.
**
Mungkin kalian sudah lama melupakannya. Tanpa rasa
penyesalan kalian bisa hidup seolah semua biasa saja. Kalian tidak menyangka
bukan, aku masih mengingat setiap detail cerita ini? Tapi tidak dengan orang
yang kalian hancurkan mahkotanya. Kalian injak harga dirinya dan kaian
permalukan didepan umum. Teman, aku ingat itu semua. Maaf.
**
Aku tidak menyalahkan kalian teman, kalian hanya
penyebab dari semua ini. Kalian masa lalu ku yang begitu menyeramkan. Mengapa
kalian bisa hidup dengan cara itu? kalian membuatku selalu merasa diawasi. Aku
merasakan cabang-cabang di belantara tangan dan bibir selalu menatapku. Aku
hidup seperti itu karena kalian. Aku akan terus mengingatnya, akan kubawa kisah
ini sampai mati. Jangan khawatir, aku juga akan mengingat kalian sebagai
ternoda. Ternoda di belantara tangan dan bibir. Aku mengingatmu.
‘selesai’
Komentar
Posting Komentar