“ Terlambat
“
Karya : Reka
Andriani P.
Andai saja hari itu
tidak pernah ada di hidupku, mungkin aku tidak akan sejahat ini. Merenung dan
selalu berpikir membuatku kehabisan waktu untuk segalanya. Kepada siapa aku
bercerita pun tidak ada yang benar-benar peduli akan semua yang terjadi padaku.
Setiap malam yang kuhabiskan hanyalah untuk penyesalan. Rasa menyesalku untuk
kejadian lampau tentang sebuah kisah masa lalu yang menderu dan mendalam. Tidak
hanya membuatku menitihkan air mata, namun membuatku menghujan karenanya.
Setiap kali kuingat memori itu, rasanya seperti ada yang menikam jantungku.
Sulit untukku melupakan semua cerita dongeng yang terjadi padaku kala itu.
Cerita yang seharusnya ada di negeri dongeng, bukan manusia. Cerita yang
menghanyutkan kepada setiap alur yang dilaluinya. Bahkan aku tidak pernah
merasa tertarik akan ujung cerita nan bahagia itu, karena aku terlalu terlena
dengan setiap keping cerita yang sudah ia suguhkan untukku.
***
Kembali dimana aku pertama kali melakukan kesalahan
terbesar dalam hidupku yaitu mengenalnya. Ketika itu, aku sama sekali tidak
sedikitpun memiliki perasaan yang istimewa dengannya. Seiiring berjalannya
waktu perasaan ku mulai berubah padanya. Ada sesuatu hal yang istimewa dalam
dirinya sehingga membuatku tertarik. Bukan karena ketampanan, kekayaan ataupun
karena jabatan. Karena yang aku lihat, dia unik dengan caranya memperlakukanku.
Biar sedikit kuceritakan bagaimana kisah ini terjadi. Kisah memilukan seorang
gadis yang telah dikecewakan dan permohonan maaf yang hilang.
Suatu hari dimusim penguhujan, mendung bergelayut
manja kepada langit. Mengisyaratkan bahwa ia akan turun dengan damai membasahi
bumi dengan penuh kehangatan dan ketenangan. Membawa setiap orang jatuh kedalam
ketenangan yang tidak akan pernah bisa ditawarkan oleh siapapun padamu.
Rerintik kecil ia mulai jatuh membasahi pipiku kala itu, tapi aku mencoba untuk
tetap melanjutkan perjalannanku untuk pulang dan berkemas. Karena tepat pada
jam 5 sore aku akan pergi dengan pria yang aku sukai untuk pertama kalinya. Saat
itu aku tidak berpikir apapun. Yang terbesit dipikiranku hanyalah aku pergi
bersamanya dalam rangkulan hujan. Keberaniannya mengajakku pergi kala senja itu
membuatku merasakan kedamaian yang belum pernah aku dapatkan. Akhirnya tibalah
kami disebuah pantai nan indah. Hujan pun masih dengan malu untuk turun, dan
kami terlibat perbincangan. Perbincangan yang cukup serius tentang masa lalunya
yang kelam. Aku masih mengingat setiap detail cerita yang ia coba ungkap dan jelaskan
padaku kala itu. Aku menghela nafas mendengarkan semua ceritanya. Terlebih
lagi.
***
Singkatnya. Ketika kami bersama, tidak sedikit
celotehan orang-orang tentangnya. Tapi, sedikitpun aku tidak pernah
menghiraukannya. Aku percaya dia sebagai orang yang benar-benar bisa aku percayai.
Hingga suatu waktu, masalah pertama muncul. Aku melakukan sebuah kesalahan yang
menurutku cukup menyinggung perasaannya kala itu. Tentang jabatan. Meskipun aku
tidak pernah bermaksud seperti itu, namun dia menganggap bahwa aku hanyalah
seorang wanita yang hanya peduli dengan pria dengan jabatan yang tinggi. Itu
melukai harga diriku sebagai wanita. Tapi mungkin itu sebanding dengan apa yang
ia rasakan. Aku kecewa. Aku mengalah.
***
Aku bertahan.
Sikapnya berubah belakangan, aku tetap berusaha meyakinkan diriku
bahwa memang tidak ada apa-apa dan semuanya tentu akan baik-baik saja. Meskipun
dalam hati ku menolak dengan semua itu. Aku tetap bersabar dengannya.
Terlebih lagi ketika ia bercanda dengan teman perempuannya, aku tidak
masalah. Yang masalah adalah ketika sikap dan perhatiannya yang terlalu
berlebihan. Aku tidak menyukainya. Sama sekali tidak.
Aku menjauhi semua hal yang bisa membuatnya tidak enak hati. Bahkan
aku harus menjadi wanita yang kejam saat itu. Hingga banyak hati orang lain
yang kusakiti dengan caraku berbicara pada mereka yang mencoba mendekatiku.
Seperti itulah hidupku ketika itu.
***
Seminggu telah berlalu dalam hitungan tahun. Terasa
begitu lama kami tidak berjumpa. Dan ketika sebuah hari membawanya datang
kerumah ku serta membawa berita yang sangat kutakutkan kala itu. Kita berpisah
dengan segala alasan yang ia bawa dan lemparkan padaku. Kedua kalinya aku
kecewa.
Kesedihan akan tetap ada meski tidak dihadirkan.
Bahkan kehilangan juga mengambil bagian dari sebuah perpisahan. Ketika salah
satu insan mengharapkan perpisahan sedangkan yang lain mengharapkan kembali
adanya pertemuan maka itu hanyalah sebuah obsesi. Aku melepasnya dengan
Bismillah dan dengan seluruh rasa kecewaku untuknya. Seluruh rasa percaya ku
padanya telah dia runtuhkan.
***
Ia datang dengan segala tawa bahagianya dengan
orang lain disampingnya. Sungguh aku tidak menyalahkan siapa wanita yang
mencoba untuk mengetuk pintu hatinya, namun menyayangkan sebuah kenyataan bahwa
ia membuka pintu hatinya untuk wanita itu disaat ia masih bersamaku. Mungkin
kali ini, bukan hanya aku saja yang tergiur dengan cerita dongengnya itu. Ada
wanita lain yang menikmati semua alur yang disuguhkan olehnya. Aku turut
bahagia. Sungguh, aku ikut bahagia.
Tapi, mengapa wanita
itu membenciku?. Jika kehadiranku membuat segalanya semakin sulit, aku mundur
dan aku menjauh dari semua detail hidupnya. Agar wanita yang disampingnya tau
bahwa aku telah benar-benar melupakannya dan menghargai perasaanku sebagai
wanita. Itu saja.
***
Bulan berganti bulan,
menyelipkan cerita cinta baru dengan pria dan cerita yang sama. Namun dengan
wanita yang berbeda. Aku memahami, mungkin karena ia kurang kreatif membuat
alur menarik seperti yang pernah ia suguhkan padaku dulu. Sehingga ia mengulang
cerita yang sama dengan wanita yang berbeda. Aku mengerti benar ketika wanita
itu marah padaku, karena ia wanita. Ia tidak ingin pria yang ia sayangi
berdekatan dengan wanita yang dulu pernah hadir dalam hidupnya. Ia hanya
terlalu mencintai.
**
Semua cerita dan
kenangan ku yang hidup dimasa silam telah terhapus. Tidak sedikitpun
meninggalkan meski hanya jejak. Jika aku tau akhir di ujung cerita nan bahagia
ku dulu akan seperti ini, bahkan untuk menoleh kebelakang pun tidak. Justru aku
tidak akan pernah mengharapkan cerita ini berlanjut. Tapi, dengan lantang ia
bilang kepada wanitanya bahwa aku belum bisa melupakannya. Jauh dari itu, aku
terlalu menyesal atas diriku untuk bisa bertemu dengannya lagi. Bukan karena aku
masih menyimpan memori itu, melainkan rasa menyesalku pernah bertemu dengannya.
Itu saja, tidak ada yang lebih.
***
Dulu, ketika
perpisahan itu datang. Aku sempat mengatakan
“ Kamu untukku sebagai apapun itu. Teman, sahabat, kekasih bahkan musuh
sekalipun “.
Pada kenyataannya, ia pernah menjadi kekasihku.
Hingga sekarang menjadi musuh ku ketika aku mengetahui bahwa ia pernah
berkhianat dibelakangku dulu ketika kita masih bersama. Tolong, aku telah lelah
untuk memafkan. Bahkan sampai saat ini aku hampir lupa cara untuk memafkannya
lagi.
Namun kali ini berbeda, wanitanya telah memintaku
untuk tidak benci terhadapnya atas apa yang telah ia lakukan kepadaku dulu. Tapi,
mengapa wanitanya menceritakan suatu hal yang tak pernah aku bayangkan
sebelumnya?. Sungguh itu sangat mengerikan. Luka atas kecewa ku terhadapnya
baru saja sembuh, sekali lagi harus basah dengan cara pengkhianatan.Walaupun itu sudah menjadi masa
lalu dan sudah tidak berguna lagi sekarang ini, namun aku masih akan terus
mengingatnya sebagai arti dari kekecewaan terdalam ku untuknya. Aku hancur.
Bahkan setelah wanitanya bercerita tentang aku, ia
kembali ingin menghubungiku. Aku sebelumnya tidak pernah mengatakan kepada
siapapun bahwa aku telah menghapus semua hal yang berkaitan dengannya sudah
sejak lama. Wanitanya memberitahuku bahwa ia ingin meminta maaf. Dia wanita
yang baik, aku tau itu. Meski dulu dia pernah membenciku tapi aku sangat
mengerti benar seorang wanita. Karena kita berdua sama sama perempuan jadi aku
mengerti benar ketika priamu berpaling, karena dulu aku juga pernah
dikecewakan. Dengan pria yang saat ini juga telah meninggalkan mu.
***
Permohonan maaf yang hilang
Dulu sekali, memang aku pernah menganggapmu sebagai hujanku. Namun
hujan yang kukenal akan memberikan ketenangan, bukan memberikan sesuatu yang
mengerikan seperti itu. Jika permohonan maaf masih ada, mengapa kamu menunggu
selama itu untuk mengakui pengkhianatan itu?. Aku mengerti benar posisi mu saat
itu. Tapi apakah perlu kamu berbicara “
Gila saja kalau sampai orang lain tau kita pacaran, mau ditaruh dimana mukaku
ini? “ begitu tuturmu dengan wanitamu sekarang. Apakah serendah itu aku
dimatamu? Serendah itukah aku dalam pandanganmu? Kata-kata mu seperti belati
yang tumpul menusuk jantung. Kata-kata yang tak pantas keluar dari mulut
seorang pemimpin sepertimu.
Kata maaf dariku. Maaf telah lancang masuk dalam
kehidupanmu, maaf karena aku tidak tau diri saat itu. Aku sadar, aku tidak
secantik, seputih dan sepopuler wanita pujaan mu itu. Jika dipikir lagi, apa
keuntungan yang kamu dapat? Hanya membuatmu malu ketika mengajakku untuk
berjalan-jalan, membuatmu minder karena aku tidak cantik.
Kamu berhak meminta maaf atas semua dosamu terhadap
gadis polos yang selalu menganggap kamu sebagai seorang yang dapat ia pegang
setiap janji dan bicaranya. Namun kamu telah kehilangan orang yang akan
memberikan maaf untukmu. Karena aku yang dulu sudah tidak akan ada lagi, karena
permohonan maaf mu juga telah terlambat.
***
Semua terlambat.
True story mba?
BalasHapus