“ Tak Ada Lagi ‘ Hujanku’ “
Karya : Reka Andriani P.
Akan kuberitahu hujan bahwa kau
telah benar-benar pergi. Tak ada lagi hujanku. Mengapa? Karena kau telah memang
ingin meninggalkan cerita mu dan cerita kita disini. Tepat sekali, tak ada lagi
yang perlu ku khawatirkan. Kekhawatiranku telah terjawab olehmu. Lupakanlah perkara
apapun yang pernah kukatakan padamu, bahwasannya aku pernah menganggapmu
sebagai hujanku. Harapanku mencium hujan bersamamu telah kulupakan. Seperti kau
melupakan semuanya tanpa sisa. Maaf, tapi kau telah memilihnya. Dan akupun
tidak akan tinggal.
Semakin hari, aku semakin kecewa.
Kecewa melihat semuanya, kecewa atas apa yang tejadi dan kecewa atas apa yang
aku dengar dan lihat. Ketika kau berkata bahwa kau tidak sedang dekat dengan
siapapun dan kau sedang berusaha memperbaiki dirimu, dengan lugunya aku
percaya. Sangat berharap bahwa saat kau bilang ingin memperbaiki diri, kudoakan
kau agar Istiqomah dengan apa yang kau lakukan. Namun, seorang teman
memberitauku bahwa kau sedang pergi dengan seseorang. Entahlah, aku sudah
terlalu muak dengan semuanya. Aku sudah terlalu lelah kau permainkan. Mendengar
hal itu, aku hanya bisa berdoa semoga kau selau diberi petunjuk oleh-Nya.
“Aku selalu mendoakan kebahagiaanmu tanpa kau minta. karena kau bagian
dari buku ceritaku. Buku cerita yang didalamya kau tuliskan cerita nan indah
namun kau juga yang menuliskan akhir yang tak bahagia disana”.
Malam itu, kau tulis kata-kata
yang sangat membuatku kecewa. Bukan persoalan cinta melainkan persoalan yang
lain. Kau tidak mengerti kan alasanku berbuat seperti itu sebelumnya?, iyaa
karena kita memang tidak ada komunikasi lagi. Sampai pada akhirnya kejadian itu
terjadi. Dia yang membesarkan masalah dan berusaha agar permasalahan ini naik
ke permukaan, agar apa? Agar kamu dan yang lain tau tentang ini. agar dia
dicari dan kita memohon padanya untuk jangan berbuat seperti itu dan kembali. Dan
akhirnya? Aku yang terpojok disini. Mengapa seakan-akan kau malah membelanya? Apa
karena ia teman mu dan usianya melebihi aku?. Kau tidak mengerti sama sekali
tentang apa yang aku rasakan setelahnya. Rasa hancur karena tidak mendapat
kepercayaan mu lagi membuat ku kecewa. Tak ada kata lain yang bisa
menggambarkan perasaan ku ketika membaca tulisanmu malam itu, iya malam dimana
ketika aku mengirimi mu pesan singkat namun kau beralasan sedang dijalan, dan
akhirnya tak kau jawab pesan singkat ku itu, entah karena kau takut menambah
runyam masalah atau kau memang tak berniat membalasnya sama sekali. Maafkan aku,
hanya itu kata yang bisa kuucapkan padamu. Maaf karena telah merepotkan mu. Maaf
karena terlalu banyak menyusahkan mu. Aku tidak akan lagi mencarimu. Sampaikan saja
maafku untuknya, untuk orang yang seharusnya aku “hormati”. Terimakasih karena
telah mengingatkanku tentang menghormati orang lain.
Aku tidak mengatakannya padamu
tentang itu, tapi kuceritakan semuanya disini. Hanya lewat tulisan inilah aku
bisa meluapkan segala keluh dan kesahku. Aku menyadari bahwa semua orang tidak
benar-benar peduli, mereka hanya berusaha peduli dan terlihat baik untuk orang
lain dengan bersikap empati. Termasuk dirimu. Sosok orang yang ku jadikan
panutan, orang yang dimana-mana aku ceritakan kehebatannya dan orang yang
sekaligus terus menerus membuatku terluka.
Terimakasih untuk semua ceritamu
ya, terimakasih untuk hadirmu yang menyakitkan.
Jika sebelumnya aku melepasmu
sebagai badai lalu, kini aku melepasmu sebagai hujanku. Karena aku tak akan
lagi bercerita tentangmu kepada hujan. Biar sakit ini kutitipkan padanya,
bersama semua cerita. Dan kau, tak perlu merasa bersalah. Hanya karena aku
menulis semua ini. Anggap saja tulisanku sampah, sama seperti anggapanmu
tentang ku malam itu yang dimana disana kau menggambarkan kejijikan mu.
“ Esok, lusa ataupun nanti kau akan sadar bahwa aku pernah ada disisi
mu dengan kuat dan sabar. Jangan mencariku lagi ketika kau telah menyadari
semuanya, karena kau sudah benar-benar terlambat untuk itu. Aku tidak
membencimu, hanya aku lupa bagaimana cara berempati pada orang lain, aku lupa
cara untuk memaafkan.
Aku sakit, aku kecewa atasmu. Tapi, pernahkan aku tunjukan padamu? Tidak,
karena aku menjaganya lewat ketidaktahuanmu tentang semuanya, tentang semua
kekhawatiranku dan kekecewaanku padamu.
Lupakanlah, cerita kita bersama hujan. Tanggal 31 Oktober 2016 kemarin aku
kembali ketempat dimana semua cerita kita dimulai. Disana aku mengembalikan
semua cerita kita pada pantai, ombak dan laut. Hanya hujan yang belum sempat
kutemui disana. Tapi tak apa, ketika hujan turun aku akan mengembalikan
sisanya.
Selamat bersuka cita, selamat atas apa yang telah kau dapatkan dan kau
tinggalkan.
Setelah ini, jangan bercerita lagi kepada hujan. Karena kau sudah bukan
hujanku lagi. Kau telah menjadi cerita untuk orang lain. Jadi, tinggalkanlah
ceritamu dan kenangan yang ada dibelakangmu, biar aku yang memungutnya dan
kukembalikan kepada hujan ditanggal yang sama.
Pergilah...
Komentar
Posting Komentar